Senin, 11 Januari 2016

KEMATIAN

JALAN PULANG MENEMUI-NYA

puisi islami tentang kematian

Betapa indahnya jika hidup
Selalu dalam kelurusan jalan-Nya
Hati tak kenal kata khianat
Hati begitu sering memegang amanat
Selalu lurus dalam setiap langkah
Meniti lintasan cahaya-Nya
Yang selalu memberkati kita

Untuk semata memenuhi panggilan-Nya
Langkah-langkah ini mulai diayunkan
Tak ada jalan pulang kecuali menemui-Nya
Mempersembahkan hidup dan mati
Dengan segenap peribadahan
Sebagai pernyataan cinta suci yang murni



Karena..
Di sana lah tertera segala makna tentang hidup
Lalu apakah keberadaan hidup kita di muka bumi?
Jadi lurus lah dalam jalan-Nya
Dengan ibadah yang tak pernah lalai

Hingga nanti..
Mengalirlah untaian-untaian amal shaleh
Merias memberikan rona surgawi
Maka kehidupan ini pun takan sia-sia
Meski kematian menjemput kita

Jadi..
Bukankah makna hidup adalah beribadah
Kesetiaan memegang amanah
Kekhusyukan hati memenuhi panggilan-Nya

ANAKKU..


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0COnKwxtU-JXb-21-VNXMrNzKftuoZ0kpDlXtVQdviwXsIfNXki7XQnsRBEV7mvf9PvjMfG4rOiv4Iq6ZnIc9NhtB-Bw7XdMqKG1rYrFBk_SzXRYapk0Gld8QdMrZtE9FV_gYGNIhTiaH/s1600/puisi+islami+untuk+anak.pngTANGGA MENUJU SURGA...


Nak..
Kita harus butuhkan tangga menuju surga
Ialah iman dan taqwa
Nak..
Kita harus butuhkan cahaya dari kerajaan langit
Ialah iman dan taqwa

Iman dan taqwa
Pusaka mulia para Nabi-nabi
Sepasang burung jiwa yang arahnya menuju surga

Wahai anak ku,
Dengan apakah kita sampai pada surga-Nya
Kalau tidak dengan iman dan taqwa
Tanpa iman, taqwa adalah ketidak pastian
Tanpa taqwa pula, bagaimana iman akan kita terjemahkan

 
Nak..
Iman lah yang mengajari kita kemantapan langkah
Taqwa lah yang mengajari kita ketulusikhlasan
Tanpa iman dan taqwa
Buat apa kita hidup di dunia
Karena di dunia kebahagiaan hanyalah semu

Nak..
Tanpa iman dan taqwa
Jiwa akan tercampak sia-sia
Dunia akan merantai dan memperbudak kita

Karena hanya iman dan taqwa
Dengan sepenuh hati menghijrahkan kita
Dari segala kesia-siaan dan dosa
Menuju hidup utama nan mulia

Anak ku..
Kita senantiasa membutuhkan tangga menuju surga
Kita senantiasa membutuhkan cahaya dari kerajaan langit
Agar kita kan sampai pada surga-Nya

Dalam naungan ridha-Nya.

Cinta yang romantis

puisi cinta romantisTirai Kerinduan

Bulan dan bintang enggan bersinar dimalam hari,
mentari pagi tak semerbak bunga mewangi
siang hari haus akan pancaran sinar matahari
senja sorepun malu menyinari bumi
kala kerinduan menghampiri
tak ada satupun burung bernyanyi
semerdu alunan simponi
Lelah langkah kaki
mengikuti alunan syair harmoni
terbayang jiwa yang teriris sepi
menyambut raga yang tersipu mati
ketika paras mu hadir dalam mimpi
merasuk kedalam halusinasi
merusak dinding-dinding emosi
Hanya perasaan yang mampu mengerti
berharap kehadiranmu disisi
memeluk erat kesedihan dihati
hancurkan rindu diufuk tepi
bersama menanti indah mentari
melaju ikuti irama melodi
hingga tercapai mimpi abadi
sampai maut yang kan mengakhiri

Pahlawan Bangsa

puisi perjuangan pahlawanUntukmu Pahlawan Indonesiaku

Demi negri…
Engkau korbankan waktumu
Demi bangsa…
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang di depan
Kau bilang itu hiburan

Tampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negri

Hari-hari mu di warnai
Pembunuhan dan pembantaian
Dan dihiasi Bunga-bunga api
Mengalir sungai darah di sekitarmu

Bahkan tak jarang mata air darah itu
Yang muncul dari tubuhmu
Namun tak dapat…

Runtuhkan tebing semangat juangmu

Bambu runcing yang setia menemanimu
Kaki telanjang yang tak beralas
Pakaian dengan seribu wangian
Basah di badan keringpun di badan
Yang kini menghantarkan indonesia
Kedalam istana kemerdekaan

Minggu, 10 Januari 2016

ARTIKEL KU

Asalamualaikum,,,,

perkenalkan saya fikri akbar saya lahir pada tanggal 10 oktober 2000 saya lahir di desa kubangkarang kecamatan karang sembung kabupaten cirebon,tapi saya tinggal saat ini di desa karang asem kecamatan karang wareng kabupaten cirebon saya senang sekali bisa ada di dunia ini,saya ingin sekali bisa menjelajahi dunia ini karena hoby saya traveling saya senang bisa mempunyai hoby itu karena hoby itu saya bisa belajar bahwa hidup ini perlu perjuangan seperti dunia ini yang sering memperjuangkan semua untuk kita tapi kenapa kita sering lalay dengan kewajiban kita sendiri untuk menjaga dan melestarikan alam ini agar membuat alam ini bangga dengan kita.saya mempunyai kedua orang tua yang sangat baik dan selalu sayang pada aku dan kakak ku saya di besarkan dengan kasih sayang nya dan cinta dari kedua orang tua kami,oh ya gays saya lupa belum memperkenalkan nama kakak saya,kakak saya bernama anin nipastiany kakak ku lahir pada tanggal 17 november 1997 kakakku sekarang sudah menjelang kuliah dia kuliah di universitas jendral soedirman di purwokerto jawa tengah dan sya sendiri baru kelas 9 madrasah.tepatnya di madrasah tsanawiyah negri(MTsN) karang sembung,saya suka pelajaran matematika saat ini karena pelajaran ini membuat ku lebih giat untuk berfikir positif agar saya bisa sukses di dunia ini dan juga saya tidak lupa untuk meminta restu kepada kedua orang tua kami agar kami bisa mencapai cita cita kami,oh ya cita cita saya ingin membahagiakan kedua orang tua ku dengan cara menjadi seorang dokter yang bisa membuat semua orang suka dengan pelayanan ku.pada bulan terakhir tahun kemarin saya merayakan tahun baru di kota kuningan tepat nya di rumah saudraku,disana saya senang sekali bisa melihat pemandangan yang di berikan oleh alam ini yaiti sebuah air terjun yanga sangat bagus menurut ku ,tempat itu sangat cocok sekali untuk kita yang mempunyai hoby seperti ku ini karena di sana kita bisa di manjakan dengan pesona pegunungan yang sangat sejuk untuk diri ini.oh ya gays selain hoby ku yang tadi aku sebutin diatas aku juga ada hoby yang lain yaitu membuat dan membaca puisi karena puisi ini lah saya bisa menjadi juara pertama di sekolah saya saya bangga dengan hoby ini karena hoby in saya bisa belajar agar kita lebih giat lagi untuk berkreativitas yang tinggi karena kreativitas lah yang bisa membuat kita lebih konsentrasi dalam belajar.tapi ingat gays kita ini jangan lupa agar keimanan kita di tingkat kan lagi jangan sampai keimanan kita luntur karena kebahagiaan sementara di dunia ini maka daripada itu tingkatkan lagi ibadah kita kepada yang maha kuasa ........

                                   sekian gays dari perjalanan hidupku ini baru sedikit nanti lagi gays janagn lupa ikuti perjalanan hidupku ini karena masih banyak cerita yang belum aku ceritakan ini baca terus ya gays karya karya ku yang lain.......

                                                                                              wasalamualaikum wr wb

Sabtu, 09 Januari 2016

unsur-unsur yang ada dalam sebuah puisi

Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Untuk menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, kita harus membaca secara detail dan penuh penghayatan puisi tersebut. Nah, saya akan menjelaskan apa sajakah unsur-unsur intrinsik puisi dan unsur-unsur ekstrinsik puisi. Langsung saja kita simak selengkapnya…..


Unsur Intrinsik Puisi

Unsur intrinsik puisi adalah unsur-unsur yang berasal dari dalam naskah puisi tersebut. Adapun unsur-unsur intrinsik suatu puisi meliputi:

  1. Tema (sense) adalah gagasan utama dari puisi baik yang tersirat maupun tersurat.

  2. Tipografi disebut juga ukiran bentuk puisi. Tipografi adalah tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana.

  3. Amanat (intention) atau pesan adalah sesuatu yang ingin disampaikan penyair melalui karyanya.

  4. Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, misalnya sikap rendah hati, menggurui, mendikte, persuasif, dan lain-lain.

  5. Rasa atau emosional adalah sentuhan perasaan penulisannya dalam bentuk kepuasan, keheranan, kesedihan, kemarahan atau yang lain.

  6. Perasaan (feeling) adalah sikap pengarang terhadap tema (subjek matter) dalam puisinya, misalnya simpatik, konsisten, senang, sedih, kecewa, dan lain-lain.

  7. Enjambemen adalah pemotongan kalimat atau frase diakhir larik, kemudian meletakkan potongan itu pada awal larik berikutnya. Tujuannya adalah untuk memberi tekanan pada bagian tertentu ataupun sebagai penghubung antara bagian yang mendahuluinya dengan bagian berikutnya.

  8. Kata konkret (imajinasi) adalah penggunaan kata-kata yang tepat (diksi yang baik) atau bermakna denotasi oleh penyair.

  9. Diksi adalah pilihan kata yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan dalam puisi.

  10. Akulirik adalah tokoh aku (penyair) di dalam puisi.

  11. Rima adalah pengindah puisi dalam bentuk pengulangan bunyi baik awal, tengah maupun akhir.

  12. Verifikasi adalah berupa rima (persamaan bunyi pada puisi, di awal, di tengah, dan di akhir); ritma (tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lemahnya bunyi).

  13. Majas adalah cara penyair menjelaskan pikirannya melalui gaya bahasa yang indah dalam bentuk puisi.

  14. Citraan (pengimajian) adalah gambar-gambar dalam pikiran, atau gambaran angan si penyair. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indra penglihatan).

Unsur Ekstrinsik Puisi

Unsur ekstrinsik puisi adalah unsur yang berada di luar naskah puisi. Bisa saja berasal dari dalam diri penulis puisi atau lingkungan tempai sang penulis puisi tersebut menulis puisinya. Berikut adalah macam-macam unsur ekstrinsik puisi:

  1. Unsur biografi adalah latar belakang atau riwayat hidup penulis.

  2. Unsur nilai dalam cerita, seperti ekonomi, politik, sosial, adat-istiadat, budaya, dan lain-lain.

  3. Unsur kemasyarakatan adalah situasi sosial ketika puisi itu dibuat.

Contoh Puisi Beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik

Berikut adalah contoh puisi beserta unsur intrinsik dan ekstrinsiknya:


Hati Sahabat

berbuih kasih dlm panas mengadu.
bertebaran sayang layaknya teman.
Menguak rasa hati sedalam lautan.
lirikan mata yg tepadu.

Ohh. . . Tuhan . . .
Getaranku sudah beda.
tak layak seakan teman.
Dia tak mengerti yg ku rasa.

Menyambut bunga bagai indah jagat raya.
Terpukau tp terlarang.
Menyiksa krn tak kan teromong.
Menanam jua dewasa.

Bagai kucing takut lautan.
Pengecut dlm bimbang.
Terhalang . . .
Takut hilang persahabatan


Unsur intrinsik dari puisi di atas adalah:

  • Diksi (pemilihan kata)

  • Tema puisi (percintaan)

Unsur ekstrinsik dari puisi di atas adalah:

  • Penulis dipengaruhi oleh suasana jatuh cinta


penemu sekaligus penulis puisi pertama di indonesia


Biografi Chairil Anwar Penyair Indonesia

Chairil Anwar adalah seorang penyair yang berasal dari Indonesia. Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Ia juga dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” dalam karya-nya, yaitu "Aku".  Ia telah menulis sebanyak 94 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.


Biografi Chairil Anwar Penyair Indonesia


Biodata Chairil Anwar

Nama Lengkap : Chairil Anwar

Tanggal Lahir : 26 Juli 1922

Tempat Lahir : Medan, Indonesia

Pekerjaan : Penyair

Kebangsaan : Indonesia

Orang tua : Toeloes (ayah) dan Saleha (ibu)


Biografi Chairil Anwar

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak tunggal dari pasangan Toeloes dan Saleha, ayahnya berasal dari Taeh Baruah. Ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Inderagiri, Riau. Sedangkan ibunya berasal dari Situjug, Limapuluh Kota Ia masih punya pertalian kerabat dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.


Sebagai anak tunggal yang biasanya selalu dimanjakan oleh orang tuanya, namun Chairil Anwar tidak mengalami hal tersebut. Bahkan ia dibesarkan dalam keluarga yang terbilang tidak baik. Kedua orang tuanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sewaktu kecil Nenek dari Chairil Anwar merupakan teman akrab yang cukup mengesankan dalam hidupnya. Kepedihan mendalam yang ia alami pada saat neneknya meninggal dunia.


Chairil Anwar bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai menulis puisi ketika remaja, tetapi tidak satupun puisi yang berhasil ia buat yang sesuai dengan keinginannya.


Meskipun ia tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, tetapi ia tidak membuang waktunya sia-sia, ia mengisi waktunya dengan membaca karya-karya pengarang Internasional ternama, seperti : Rainer Maria Rike, W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Ia juga menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.



Pada saat berusia 19 tahun, ia pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) bersama dengan ibunya pada tahun 1940 dimana ia mulai kenal dan serius menggeluti dunia sastra. Puisi pertama yang telah ia publikasikan, yaitu pada tahun 1942. Chairil terus menulis berbagai puisi. Puisinya memiliki berbagai macam tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme.


Selain nenek, ibu adalah wanita yang paling Chairil cinta. Ia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.


Dunia Sastra

Nama Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia berusia dua puluh tahun. Namun, saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di "Majalah Pandji" untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia yang tidak diterbitkan hingga tahun 1945.


Biografi Chairil Anwar Penyair Indonesia


Salah satu puisinya yang paling terkenal dan sering dideklamasikan berjudul Aku ("Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!"). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat "Gelanggang" dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan "Gelanggang Seniman Merdeka" pada tahun 1946.


Kumpulan puisinya antara lain: Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Seniman Pelopor Angkatan 45 Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).


Karya-karya terjemahannya adalah: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide); Kena Gempur (1951, John Steinbeck). Karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol antara lain “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); “Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963); “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969).


Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta kepada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun karena masalah kesulitan ekonomi, mereka berdua akhirnya bercerai pada akhir tahun 1948.


Artikel lain : Biografi Helen Keller Penulis Hebat.


Puisi "Aku"

Chairil Anwar pertama kali membaca "AKU" di Pusat Kebudayaan Jakarta pada bulan Juli 1943. Hal ini kemudian dicetak dalam Pemandangan dengan judul "Semangat", sesuai dengan dokumenter sastra Indonesia, HB Jassin, ini bertujuan untuk menghindari sensor dan untuk lebih mempromosikan gerakan kebebasan. "AKU" telah pergi untuk menjadi puisi Anwar yang paling terkenal.


"Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Akhir Hayat"


Karya-karya yang Membahas Mengenai Chairil Anwar

  1. Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)

  1. Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972)

  1. Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)

  1. S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York, 1976)

  1. Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976).

  1. Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976

  1. H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)

  1. Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)

  1. Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)

  1. Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)

  1. Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)

  1. Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)

  1. Drama Pengadilan Sastra Chairil Anwar karya Eko Tunas, sutradara Joshua Igho, di Gedung Kesenian Kota Tegal (2006)


Akhir Hayat

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi dengan kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949, penyebab kematiannya tidak diketahui pasti. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. 


Menurut catatan rumah sakit tersebut, ia dirawat karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah penyakit usus yang membawa kematian dirinya yakni ususnya pecah. Tapi, menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia insaf akan dirinya dia mengucap, "Tuhanku, Tuhanku...".


Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".